Archive for December, 2012

Pasar Tanah Abang laksana pasar Tradisional

Apabila kita ingin pergi ke Pasar Tanah Abang, sebenarnya lokasi pasar ini berada di Jalan Kyai Haji Mas Mansyur. Lebih bagunya lagi, pasar ini bisa ditempuh melalui flyover. Setelah kita sampai dan berada di Jalan Jendral Sudirman, perjalanan masih harus dilanjutkan lagi. Betul, kita akan masuk ke Jalan Professor Dr. Satrio. Tapi ketika melalui jalan Jalan Jendral Sudirman, kita, tepatnya di dua sisi jalan, akan dihadapkan dengan beberapa gedung, yakni seperti Gedung BNI (Bank Nasional Indonesia), Wisma 46, Panin Bank, Shangri La Residence, Mall Sudirman, dan Taman Residensi Sudirman. Lalu, ketika kita berada di jalan Prof. Dr. Satrio kita akan menjumpai Hipermarket Carrefour yang berlokasi di samping ITC Kuningan dan Mall Ciputra.

Kombinasi antara pasar modern dan tradisional, itulah Pasar Tanah Abang. Meski Pasar Tanah Abang mempunyai bentuk fisik mirip dengan gedung mall (yang luas, tinggi, dan besar) akan tetapi apabila kita sudah berada di dalamnya kita akan menjumpai banyak deretan ruko dan suasana yang didapat adalah pasar di mana kita bisa membeli baju langsung ke rukonya dengan kasirnya pun memang berada di ruko tersebut. Jadi, sistem penjualan di dalamnya adalah masih menganut sistem pasar tradisional, yaitu dengan menggunakan tawar-menawar. Siapa cepat dia dapat, inilah yang ditawarkan oleh Pasar Tanah Abang. Dengan begitu, apabila kita ingin berbelanja ya mesti cepat dan tanggap.

Bagaimana dengan masuk ke Pasar Tanah Abang melalui pintu masuk utama? Ini mudah saja, kita bisa masuk melalui Metro Tanah Abang. Tunggu, sebaiknya kita jangan mengira bahwa Metro TA ini adalah kantor polisi dan salah besar itu. Sebab tempat ini adalah tempat kita bisa membeli bahan pakaian (seperti baju dan celana) secara besar atau eceran, yaitu pusat grosir pakaian. Tapi di sini juga kita bisa membeli kasur busa atau spring bed, sepatu, dan masih banyak lagi. Tapi yang jelas, tempat ini bukan tempat untuk membeli sayur. Biasanya, apabila kita membeli barang secara grosir atau borongan, kita akan mendapatkan potongan harga yang tidak sedikit dan ini memang menguntungkan tapi biasanya yang akan kita jumpai adalah banyak pelanggan yang membeli secara besar-besaran atau grosir.

Dari gedung Pasar Tanah Abang ini terbagi menjadi enam level di bagian inilah yang digunakan untuk menjual pakaian seperti  celana Jins, celana bahan, kaus, kemeja, busana muslim, pakaian anak, . Pada basement pasar ini digunakan untuk berjualan sepatu dan sandal. Blok A dan B, di dalam blok ini tempat pusat tektil baru, beberapa blok yang baru ini di Pasar Tanah Abang. sebenarnya apabila hendak ke Blok A kita akan menjumpai suasana yang agak kurang nyaman. Akses menuju ke dalam blok ini kita akan menghadapi sebuah tangga yang kotor. Ditambah lagi aliran sungai berwarna hitam yang dipenuhi sampah, pemandangan ini kita akan jumpai di bawah gedung berada di bawahnya. Suasana Blok A tak jauh berbeda dengan kondisi Blok F, keduanya banyak dikerumuni ruko.  Dengan lorong-lorong yang tidak luas membuat suasana pasar menjadi sesak. Inilah yang akan kita jumpai di Pasar Tanah Abang. Sehingga ketika kita hendak berjalan ke satu tempat mesti bersabar. Kondisi semacam ini akan membuat kita berkeringat.

Tips Berbelanja di Pasar Tanah Abang

Semenjak pertama kali, sudah enam belas tahun, menginjakkan kaki di Jakarta hingga hari ini, tak pernah sekalipun diri saya berkunjung ke kawasan Pasar Tanah Abang. Akan tetapi, keterkenalanan pasar ini tak pernah pudar. Malahan ia diberi julukan sebagai salah satu pasar garmen dan grosir terbesar dan bahkan se-Asia Tenggara. Ini menakjubkan. Tapi anehnya, hal ini tak membuat diri saya lekas tertarik untuk datang apalagi hendak belanja. Menurut beberapa informasi yang saya terima dari kawan-kawan yang pernah berbelanja ke sana bahwa pasar ini Tanah Abang ini sesak, panas, padat, ramai dan kurang rapi alias jorok. Melalui informasi itulah saya tidak ada keinginan untuk berjalan-jalan dan berbelanja ke pasar yang dibilang banyak premannya. Ini cukup beralasan. Tapi di pertengahan bulan Mei lalu, ketika itu liburan akhir pekan, istri saya meminta untuk pergi ke pasar ini bersama. Maksudnya adalah hanya sekedar melihat-lihat bagaimana kondisi Pasar Tanah Abang dan di lain sisi, kebetulan membeli beberapa pasang pakaian untuk orang tua si istri alias mertua.

 

Hari itu adalah hari Sabtu pagi yang cerah karena matahari bersinar ceria. Aku dan istri saya berangkat menuju Stasiun Tanah Abang dari Stasiun Cilebut, tentu saja kami menggunakan kereta atau KRL Commuter. Kereta api jurusan Tanah Abang tetap ramai meski hari itu adalah weekend atau akhir pekan apalagi hari normal lainnya, hari kerja. Kami menghabiskan waktu dari Cilebut sampai pasar ini sekitar satu jam melalui KRL. Tapi kita mesti hati-hati dengan pencopet di kereta ini. Setelah menghabiskan waktu satu jam perjalanan, akhirnya kami berdua turun dari kereta bersama para penumpang lainnya. Kondisi ketika hendak turun kereta pun begitu padat hingga kami berdua mesti cepat-cepat enyah dari tempat ini. Saya kira jarak antara stasiun dan Pasar Tanah Abang begitu jauh tapi malah sebaliknya. Ketika keluar dari stasiun, kita bisa melihat bagunan Pasar yang besar. Di sisi lain, cuaca bulan Mei begitu panas. Akan tetapi para pengunjug pasar Tanah Abang tidak pernah surut dan selalu ramai. Para pedagang emperan atau kios liar meramaikan jalan yang selalu dihampiri para pembeli. Dari sini saya melihat kesibukan mereka yang seolah tak ada matinya.

 

Dengan tidak terburu-buru, kami menyisiri jalan menuju Pasar Tanah Abang. Sebenarnya kami tidak tahu arah menuju ke pasar tapi dengan tidak sadar kami hanya mengikuti orang-orang yang berada di sekitar kami untuk berjalan menuju arah tertentu. Alhasil, kami melangkah menuju Pasar Tanah Abang, tepatnya melalui blok F. Dan benar juga sebagian besar dari mereka tengah melangkah menuju Pasar Tanah Abang tepatnya di Blok F. Ruko-ruko yang berjajar mengisi Blok F. Di dalam ruko-ruko ini banyak terdapat aneka produk garmen, yakni pakaian muslim seolah menjadi barang favorit sehingga diburu para pembeli. Ketika berada di pasar ini, sebaiknya kita membutuhkan energi dan kesabaran ekstra. Bukan hanya udara yang padat dan panas tapi suasana di sini sangat padat. Hal ini terjadi karena ketika para pembeli atau pelanggan tampak begitu riuh dari segala arah di tambah lagi dengan kendaraan seperti mobil-mobil, motor-motor sampai gerobak pengangkut barang terlihat memadati gang-gang sempit di antara dua barisan ruko yang berada di antaranya.

Membaca lagi cerita berdarah dan pilu di daerah antara tanah abang yang ada di tahun 1945

Di Oktober 1945, escort kapal-kapal perang tentara Sekutu merapat di pantai Jakarta, ketika terjadi pergolakan dan perang melawan Jepang. Lalu, kapal perang Belanda bersama-sama kapal sekutu lainnya sama ikut berperang bersama sekutu. Masih di tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 4-5 Oktober, Stasiun Tanjung Priok luluh-lantakan oleh Tentara Belanda. Pasukan Belanda, melalui bantuan tentara sekutu, mengatur siasat dan persediaan alat-alat perang. Kala itu atmosfir di Jakarta tampak genting dan mencekam, hal ini disebabkan lantaran Belanda melebarkan sayapnya lalu mereka melakukan pergerakan, yakni bertempur di beberapa tempat, seperti Kramatjati, Senen, Sawah Besar, Petojo, Pintu Air, Harmoni, Petamburan, Tanah Abang dan Gambir.
Kala itu masyarakat Tanah Abang merasa tidak aman karena pasukan India pun melakukan pemeriksaan. Antara penduduk daerah Tanah Abang dan Jati Petamburan dengan pasukan Belanda terjadi gencatan senjata di Kampung Karet, lokasi ini berada di dekat kuburan. Dengan maksud memutuskan hubungan antara dari satu dengan daerah lain, semisal Tanah Abang dengan Kramatjati, kemudian Belanda terus mencoba untuk menduduki kantor-kantor atau pos-pos polisi. Meski persenjataan Belanda bias dibilang lengkap, akan tetapi para pemuda yang ditemani para penduduk saling bahu-membahu melakukan pertempuran melawan pasukan kolonial. Adalah keberanian yang menjadi modal superioritas para pejuang kala itu, alhasil para pemuda dan penduduk yang berada di daerah Karet mampu mengusir Belanda. Dengan begitu, pasukan ‘colonial’ mundur ke Jembatan Tinggi Jati Petamburan. Di tempat inilah pasukan colonial dipecah menjadi dua peleton, pasukan pertama menuju daerah Jati Baru dan pasukan kedua pergi ke daerah Tanah Abang. Sialnya, mereka (para pasukan itu) diserang, di Gang Thomas, oleh penduduk yang dibantu para pemuda. Pertempuran ini banyak memakan korban dari pasukan kolonial di sisi lain para penduduk merampas persenjataan mereka.
Di waktu yang lain, tanggal 20 Nopember 1945 pertempuran pun bergejolak kembali, yakni di Jati Baru Karet, dan Jati Petamburan. Kala itu sekitar jam 4.30 pagi, subuh menjelang yakni sebelum adzan sholat subuh, pasukan Belanda melakukan kegiatan yakni penggeledahan dan pemeriksaan, yang menurut mereka kegiatan rutin, pada setiap anggota masyarakat yang melalui Jembatan Tinggi. Ketika itu tentara colonial tidak tahu yang mereka geledah adalah para pemuda (pejuang) dan penduduk yang bersenjata dan berusaha untuk tidak melawan. Para pemuda dan penduduk melemparkan tembakan dan granat ke arah Jembatan Tinggi setelah mereka berjalan agak jauh dari tempat itu, tentu, suasana sewaktu itu chaos. Mereka (para pemuda) yang dari Jati Petamburan, Kampung Bali, dan Tanah Abang saling membantu untuk menyerang rombongan konvoi kendaraan patrol Belanda. Betul, antara pasukan Belanda dan penduduk banyak yang menghembuskan nafas terakhirnya di sini. Akan tetapi, kejadian bencana ini merupakan pecut dan suplemen untuk pembangkit semangat untuk bertempur. Melalui kejadian ini, di pihak Belanda tetap tidak tinggal diam untuk menghadapi para penduduk, dengan begitu, mereka menyewa mata-mata dengan maksud untuk mengawasi tingkah laku yang mencurigakan dari penduduk dan para pemuda.
Masih di cerita yang sama, cerita kecil ini mengambil lokasi di Tanah Abang, terdapat seorang pria yang berasal dari Kampung Bali, yakni Bapak Misnan. Laki-laki gagah berani ini menyamar untuk menjadi petukang, yakni cuci mobil, di markas Sekutu ‘Royal Air Forces’ (RAF). Markas ini berada di Tanah Abang Bukit, tepatnya di bekas rumah tuan tanah. Ia mendapatkan kepercayaan dari para penduduk dan pemuda untuk mencuri dokumen orang-orang yang akan diculik. Alhasil, ia berhasil melakukan tugas itu sehingga orang-orang yang berada di daftar bisa di selamatkan.

Yang ter-update dari Pasar Grosir Tanah-Abang tempatnya membeli pakaian murah berkualitas

Busana Tanah AbangSebaiknya ketika berada di Tanah Abang kita sudah mencatat barang-barang apa yang mesti kita beli. Apabila sebaliknya, ini akan membuat kita semakin kebingungandankalut. Karena, pasar ini seperti atau menjadi hutan bahan-bahan tekstil yang kita inginkan. Inilah yang berbahaya bahwa kegiatan tanpa rencana maka uang yang ada di dompet bisa menjadi kurus lantaran pengeluaran yang tidak terkontrol. Banyak yang mencatat bahwa sejak 1735Pasar Tanah Abang sudah hadir. Sebenarnya Tanah Abang ini merupakan kecamatan yang terletak di Jakarta Pusat dan disini pulaterbangun pasar tekstil. Pasar ini terbilang bahwa ia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara.

Tidak hanya di bulan Februari 2003 tapi di bulan Desember 2009 pernah terjadi peristiwa kebakaran yang memang sebagian dari Pasar Tanah Abang menjadi hancur. Sebenarnya, adanya penghancuran beberapa pasar dan tempat hunian di Jakarta mengandung isu kontroversial yang masih terbuka hingga kini bahwa penyebab kebakaran adalah menjadi konsumsi politis dan Pasar Tanah Abang harus direnovasi dan direkonstruksi.Tentu saja, perbaikan atau peremajaan ini tampaknya tidak diinginkan. Mungkin salah satu alasannya adalah kerugian yang akan menimpa para pedangan karena sudah pasti terjadi relokasi selama peremajaan. Sehingga, para pelanggan yang mereka punya akan beralih ke tempat lain.

Pasar terbagi menjadi 3 wilayah gedung yakni 1) Tanah Abang Metro, 2) Tanah Abang lama, dan 3)Tanah Abang AURI. Apabila melihat dari pembagian dari gedung ini, kita bisa melihat adanya pembangunan pasar yang lahir di kekuasaan VOC Belanda. Dengan begitu, di beberapa gedung ini tampak hidup betul kesibukan dan keramaiannnya. Ketika kita menulis nama pasar ini, pastinya kita mendapatkan deretan pasar online yang tersedia dan mereka pun berani untuk berbisnis melalui dunia maya. Memang, selagi berada di pasar ini kita mesti membuat catatan karena godaan bahan-bahan tekstil di sana begitu memikat. Tapi jangan salah, apabila kita ingin membeli barang-barang eceran, yakni pakaian jadi, sebaiknya kita langsung meluncur ke blok E. Di sini adalah tempatnya barang-barang siap pakai dan diproduksi secara masal itu berada. Lalu apa yang menjadi pasar ini begitu begitu terkenal?

Tempat ini terdapat pabrik tekstil terbesar,

  1. selain barang-barang yang kita jumpai begitu banyak tapi
  2. di tempat ini menawarkan kita banyak harga yang begitu murah sehingga kita bisa mengkonsumsinya dengan dompet yang pas-pasan.

Bagi penduduk Jakarta, pasar ini sudah menjadi hal biasa tapi bagaimana dengan penduduk di luar Jakarta apakah mereka mengetahui dan penasaran tentang pasar ini? Kembali ke Pasar Tanah Abang. Di sini kita bisa membeli barang mulai dari harga Rp 40,000 hingga lebih dari itu lantas barang-barang yang ingin dibeli mulai dari kategori aksesoris, pakaian untuk anak, pakaian wanita, dan pakaian pria. Bagi yang ingin pergi ke sana atau pasar ini anda bisa menggunakan kendaraan kereta api, kendaraan umum, atau kendaraan pribadi. Kata orang-orang, Jakarta mempunyai sistem lalu lintas yang agak rumit dan anda mesti memperhatikan rambu lalu-lintas atau bertanya-tanya pada orang. Jikalau sebaliknya, tidak melakukan hal-hal itu anda akan tersesat. Ini memang bisa merugikan waktu anda sebagai pengunjung. Anda pergi pagi tapi karena tersesat anda akan terlambat sampai siang menjelang sore sampai di tempat tujuan. Tapi apabila anda ingin menginap di Jakarta, anda bisa menggunakan hotel sebagai alternatif kalau anda tersesat. Setelah itu, bisa istirahat dengan baik.

Terjadinya Tanah Abang yang belum diungkapkan sampai kini hingga masih menimbulkan tanda tanya

Ketika seorang kapten Cina bernama Phoa Bhingam yang bekerja—saat pemerintahan kolonial VOC Belanda itu, untuk membuat sebuah kanal pada tahun 1648 nama Tanah Abang mulai dikenal. Pembuatan kanal ini melaju ke bagian selatan sampai dekat hutan Batavia. Lalu, tanah Batavia (Jakarta) ini dipecah (split) menjadi dua daerah; pertama, ke arah barat hingga kali Krukut dan kedua, kali Ciliwung hingga daerah timur. Molenvliet adalah sebutan nama bagi kanal ini, kanal atau terusan ini digunakan untuk sarana transportasi seperti mengangkut hasil bumi melalui perahu ke arah selatan hingga dekat hutan Batavia. Melalui kanal ini, hubungan transportasi hingga komunikasi pemerintah VOC kala itu mendapatkan perkembangan hingga ke kota bagian selatan. Sampai sekarang, jalan-jalan yang mengantarai kanal itu seolah-olah menjadi urat nadi kota Batavia karena ia menghubungkan antara 1) Merdeka, 2) Lapangan Benteng, 3) Tanah Abang, hinggga daerah 4) Jakarta Kota.
Di daerah selatan Batavia ini, dijadikan sebuah daerah perkebunan yang diperuntukan orang Belanda sebagai tuan tanah dan Cina. Di daerah Tanah Abang, Phoa Bhingam memiliki perkebunan tebu yang sudah dilengkapi dengan tempat penggilingan. Di lain bagian, orang-orang kolonial Belanda memiliki daerah perkebunan seperti perkebunan kacang dan perkebunan lainnya. Melalui sistem pertanian perkebunan kacang inilah orang Belanda membuat bahan komoditas, yakni minyak yang terbuat dari kacang. Di lain pihak, mereka berusaha untuk berkebun jahe, melati, sirih, dsb. Dengan begitu perkebunan ini masih membekas melalui nama-nama atau julukan bagi daerahnya. Dengan hasil hasil lahan yang kaya, akhirnya seorang Justinus Vinck membuat gagasan untuk mendirikan sebuah pasar di daerah Tanah Abang hingg Senen. Gagasan ini ia ajukan ke pemerintah setempat. Alhasil, usahanya ini mendapat restu dari Pemerintah VOC Belanda melalui Gubernur Jenderal yang bernama Abraham Petrus. Setelah direstui, Justinus Vinck, tanggal 30 Agustus 1735, ia (orang Belanda itu) membangun dua buah pasar— Pasar Senen atau Weltevreden dan Pasar Tanah Abang. Di bagian lain, kali Krukut menjadi penting karena ia berada tidak jauh dari Pasar kedua. Dengan begitu, perahu-perahu yang memuat barang-barang untuk di jual ke pasar ini menjadi ramai.

Sepertinya ada baiknya untuk sedikit berbicara mengenai asal-usul nama Tanah Abang. Terdapat ada beberapa pendapat tentang nama ini, yaitu 1) tahun 1628, serombongan pasukan Mataram menggempur Batavia-Jakarta, akan tetapi para pasukan Mataran itu menyerang bagian kota melalui Tanah Abang, yakni daerah selatan Jakarta/Batavia. Serbuan mereka adalah dengan alasan untuk menggunakan sebagai pangkalan maritim, karenakan tempat/daerah ini adalah tanah perbukitan ini daerah yang baik, so mereka tidak menyerang kota Batavia melalui kali Krukut karena zona rawa adalah tempat itu berada kala itu. Setelah daerah atau zona itu terdapat tanah merah lantas maka mereka menyebut tempat itu sebagai Tanah Abang, yang mereka ambil dari bahasa Jawa, abang berarti merah warna darah. 2) Di episode lain, terdapat dugaan bahwa yang menganggap Tanah Abang ini berasal dari “abang dan adik”, yakni kakak dan adik. Dikarenakan si adik tidak memiliki rumah atau house, kemudian si adik meminta dan memohon kepada abangnya agar membangun rumah. Dengan begitu, daerah ini dijuluki sebagai yang sudah disebut di atas. Akan tetapi, keberadaan nama ini masih diragukan dan belum dikaji secara mendalam oleh antropolog.

 

Di akhir abad 18, daerah ini mengalami perubahan. Hal itu ditandai dengan kemunculan beberapa rumah mewah yang didirikan oleh orang-orang ‘colonial’ Belanda hingga Cina. Di sekitar rumah-rumah/kediaman mereka terdapat rumah-rumah pribumi yang dibangunan secara sederhana. Kebanyakan dari penduduk ini bekerja sebagai penjaga (security), pembantu, tukang kebun di rumah-rumah orang Belanda dan Cina.

Sekelumit tentang tanah abang yang sibuk dan berdiri di antara gedung-gedung tinggi

Kita pastinya tahu Tanah Abang. Banyak orang yang mengatakan kalau menyebut nama itu pastinya membayangkan tentang pasar yang banyak memperjualkan banyak barang-barang export atau import seperti pakaian laki-laki, perempuan, sampai anak-anak. Entah itu untuk seks perempuan maupun laki-laki. Di tempat inilah banyak bercampur para pedagang yang berasal dari luar Jakarta seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Jawa Barat dan bisa jadi para pedagang dari Sumatera dan Sulawesi pun menggunakan Tanah Abang sebagai alat pencari uang. Perputaran uang di salah satu daerah kota DKI Jakarta ini memang tampaknya jelas ketika antara penjual dan pembeli melakukan transaksi ekonominya sendiri-sendiri. Tentu, masyarakat Jakarta memang banyak memanfaatkan memanfaatkan tempat perdagangan ini sebagai tempat perdagangan grosir yang sangat sibuk. Apabila kita mengklik Tanah Abang di salah satu mesin pencari internet maka kita akan menjumpai kata ‘Tanah Abang’ dengan embel-embel toko online atau untuk penjualan fashion dan beberapa penjualan baju-baju lain.

Kita memang  tidak bisa menutup mata keberadaan Tanah Abang sebagai tanah yang memancarkan rezeki bagi penggunanya, khususnya para penjual. Di lain sisi, kita pun membutuhkan tempat ini karena di sini kita bisa membeli bahan pakaian secara murah. Apakah kita tahu bahwa Tanah Abang terkenal sampai Asia Tenggara? Mungkin contoh kecil ini yang kurang diperhatikan tapi yang jelas daerah ini memang terkenal. Apabila kita membaca novel-novel pujangga baru atau berita terkait Tanah Abang mungkin kita akan terperangah bahwa dulu pun terdapat transaksi ekonomi yang cukup sibuk di tempat ini. Yang agak nyeleneh lagi, tempat ini menjadi tempat pusat oleh-oleh bagi pelaksana haji yang berpulang dari tanah Mekkah. Betul saja, di sini ada beberapa toko yang memperdagangkan kurma dan makanan khas Arab lainnnya. Ini mungkin ironis tapi toh kita membutuhkannya juga. Di lain sisi, para pelaksana haji tidak diperkenankan untuk membawa oleh-oleh terlalu banyak dan hal inilah yang tidak diingankan.

Sebagai tempat yang terkenal, sekaligus terbesar, untuk pusat penjualan grosir tekstil se-Asia Tenggara, ia menampilkan banyak sisi mulai dari sudut pandang keturunan (Tiong Hoa) dan pribumi. Tapi akan terlalu panjang apabila kita membahas sudut pandang apalagi sampai sejarah di laman ini. Tapi ada yang mengatakan bahwa Tanah Abang ini bertanah merah. Kata ‘merah’ ini merajuk pada kata ‘abang’. Di sisi lain, nama ini sudah disebut-sebut pada abad 17 pertengahan. Tentu, di abad ini adalah masa kekuasaan VOC Belanda melancarkan keuntungan kapitalnya dan masuk ke kantung kerajaan Belanda kala itu.

Seiring perkembangannya, daerah  Jakarta ini mengalami perubahan akan bangunannya karena di tahun 2003 terjadi kebakaran hebat. Sehingga beberapa kios yang tidak layak langsung dirobohkan dengan alasan keselamatan. Dengan begitu, hingga kini, pasar Tanah Abang ini menyerupai mall pada umumnya karena bentuk yang didirikan pemerintah adalah gedung bertingkat yang dilengkapi dengan ruang pembatas toko, lift, tangga jalan, dan AC. Hal ini tentunya gedung ini memanfaatkan sistem keamanan dan keselamatan. Tinggal bagaimana pengelola memanfaatkan gedung ini sebagaimana mestinya. Lalu, sistem keamanan pun mesti diperhatikan tapi ketika kita berada di sana sebaiknya waspada akan terjadinya penjambretan maupun kejahatan yang lain. Dan lagi, hendaklah seseorang mengenakan pakaian atau perhiasan yang tidak terlalu mencolok agar ia tidak akan menjadi korban kejahatan.

Melihat kembali tanah abang dalam dua wajah yang dihadapi kini dan masa lalu

Sebelum Natal tahun 2009 kita pastinya pernah dikagetkan oleh peristiwa runtuhnya Pusat Grosir Pasar Tanah Abang. Ketika itu berita mengenai pasar ini menjadi headline berita cetak maupun berita televisi. Ada beberapa orang yang menjadi korban pada musibah atau peritiwa ini. Para pekerja kuli angkut barang adalah contohnya. Yang menjadi momok menakutkan adalah apakah di bulan Desember kini gedung pasar grosir di sini akan runtuh kembali? Entahlah. Ada beberapa kriteria yang sudah seperti rahasia umum bahwa Tanah Abang akan runtuh atau kebakaran ini lantaran ada pemicu dari pemerintah Jakarta sendiri, yakni ingin merekonstruksi bangunan tapi di sisi lain para pedagang tetap bersikukuh mempertahankan lahannya karena apabila mereka direlokasi maka terdapat banyak kerugian yang akan menimpa masyarakat yang ada di sini. Bagi penduduk Jakarta, Tanah Abang merupakan salah satu asset yang mesti dipertahankan keberadaannya atau eksistensinya lantaran ia, selain menyimpan kenangan atau memori bagi penduduknya, adalah tempat di mana mereka bisa melangsungkan kehidupan atau dengan kata lain melalui berdaganglah mereka bisa hidup. Tapi yang menjadi masalah adalah apakah gedung Pusat Grosir Tanah Abang kini masih bagus keadaannya? Bagaimana dengan peremajaan yang dilakukan petugas? Pertanyaan terakhir adalah milik pemerintahkan Pusat Grosir Tanah Abang ini? Apabila sebaliknya apa yang dilakukan ketika menghadapi peristiwa yang masa lalu? Bangunan grosir ini sungguh sangat dikenal tapi di sisi lain ia juga menjadi momok menakutkan ketika mendengar berita-berita yang sebelumnya mengenai gedung ini. Ia seolah menjadi gunung merapi yang bisa meledak seketika dan tanpa beberapa symptom yang bisa terdeteksi oleh kita. Di sisi lain, sebaiknya penghuni, yang kami maksud adalah penjual, juga mesti merawat gedung dengan menyimpan barang-barang mereka dengan beban yang sesuai dengan kondisi gedung sehingga bangunan akan mampu menahan kapasitas yang dibebankan.

Terlepas dari itu semua, pasar Tanah Abang tetap menjadi idola pembeli karena di sana menyajikan barang-barang yang sangat terjangkau oleh masyarakat. Sehingga uang yang dikeluarkan pun tampak tidak menjadi masalah yang begitu penting. Tentu saja, Tanah Abang adalah tempatnya atau pusatnya grosir menjadi konsumsi khalayak umum ketika seseorang yang berkocek pas-pasan mampu membeli pakaian untuk anak-anak kita maupun diri kita sendiri. Kami dan anda atau mereka tidak bisa menutup mata bahwa kebutuhan kita tidak bisa terlepas dari pasar Tanah Abang ini karena ia selalu menyajikan hal-hal yang sangat dibutuhkan serta menyajikan kekhasan dari para pedagang di dalamnya. Melalui penjualan yang murah ini pun dapat menguntungkan para pedagang karena sebagai timbal baliknya mereka akan diburu selalu oleh para pembeli yang sudah menjadi langganan. Dengan begitu akan selalu terjadi transaksi ekonomi yang tampak tak pernah larut oleh zaman. Sistem penjualan secara murah ini memang menguntungkan kedua belah pihak sehingga perputaran uang selalu terjadi di pasar Tanah Abang ini. Kehidupan di pasar ini di setiap harinya selalu ramai dikunjungi para konsumen yang membutuhkan sehingga ia sanggup menjawab ketidakpuasan konsumen. Ini semacam eksistensi masa yang tak pernah luntur lalu sebuah pasar mencuatkan kesanggupan dalam segi kapital yang setiap harinya dikerumuni manusia. Mengingat adanya transaksi ekonomi masa, ia menjadi simbol kelas yang secara tidak sadar selalu menjadi konsumsi meski barang itu hanya untuk dibeli tapi tidak untuk dikenakan, seperti pakaian. Melalui pasar ini kita bisa secara tidak langsung kita bisa melihat masyarakat Jakarta yang plural (mulai dari pembeli, penjual, sampai kuli angkut barang) keberadaannya.