Keberadaan tanah abang dalam triad ‘merchant wholesale’, ‘broker’ dan ‘agent’

Beberapa hari yang lalu, kawan saya mengatakan bahwa di Tanah Abang banyak menjual bahan grosir. Lantas saya teringat dengan tuturan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), grosir berarti pedagang yang menjual barang dalam jumlah besar atau tidak banyak. Dengan begitu, sepertinya untuk pasar grosir terbesar di Indonesia maka Tanah Abang menduduki peringat pertama ketimbang pasar-pasar lain di sekitar Jakarta maupun Indonesia pada umumnya. Penjualan secara besar ini mengacu pada sistem kapital (sebut saja modal) yang diperlukan. Tapi bukan hanya modal yang diperlukan semata karena ide adalah penting pula agar bagaimana seseorang membuat bisnisnya baik. Dalam hal ini bentuk usaha pasar grosir di Tanah Abang sebegitu ketat tampaknya. Melalui kata ‘grosir’, lantas kita merajut pada triad dari ‘merchant wholesaler’, ‘broker’, dan ‘agent’.

  1. ‘Merchant wholesaler’ di sini mengacu pada sebuah perusahaan (company) di mana ia melakukan produksi sampai penjualanannya. Bisa dibilang tingkat ini mengacu pada produsen lalu bagaimana dengan Tanah Abang? Tentu, meski tempat ini memperlihatkan adanya kegiatan transaksi ekonomi tapi tidaklah tepat apabila Tanah Abang hanya menjadi tempat menjadi penjualan semata.
  2. ‘Broker’ sebenarnya mengarah pada perantara. Tapi dasar ‘broker’ di sini mempertemukan antara pembeli dan penjual. Di lain sisi, ia pun membuat atau melancarkan penawaran antara pembeli dan penjual. Apabila kita menelusuri sampai ke puncak perekonomian Tanah Abang, kita pastinya akan melihat ‘merchant wholesaler’ dan ‘broker’.
  3. Dan yang terakhir adalah ‘agent’. Kata ‘broker’ dan ‘agent’ mempunyai makna yang hampir sama, yakni perantara. Tapi sisi lain, ‘agent’ merupakan perantara yang berhubungan penjual dan pembeli lalu mereka melakukan hal ini secara permanen ketimbang ‘broker’.

Tentu, tiga hal ini mempunyai kinerjanya masing-masing dan mereka menjadi penindak ekonomi dan penentu kebijakan dari penawaran kapital yang diciptakan secara masing-masing kategori. Pada dasarnya yang bekerja secara besar adalah ‘merchant wholesaler’ karena ia merupakan distributor yang menyuplai pasar untuk kebutuhannya. Sehingga ia mesti mempunyai gudang penyimpanan selama itu dibutuhkan. Penyimpanan di sini menambatkan diri sebagai pasokan agar kebutuhan tidak terlalu langka. Di lain sisi, Tanah Abang layak mempunyai ketiga hal itu. Meski di sana tidak menampakkan adanya ‘merchant wholesaler’ tapi ia terdapat distributor. Sehingga wajar apabila Tanah Abang merupakan salah satu pasar grosir terbesar di Asia Pasifik. Dengan begitu, pasar di Tanah Abang begitu sibuk. Terdapat beberapa iklan yang mengatakan bahwa tempat penjualan bahan tekstil ini selalu menampilkan hal yang terbaru dari grosir hingga eceran. Inilah yang membuat pasar ini begitu diburu oleh pembeli setianya. Dan para pembelinya tidak hanya dari daerah Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi tapi di luar daerah-daerah. Bukankah ini yang membuat suatu keuntungan dari pasar ini? Dalam pasar ini kita tidak hanya membeli barang melalui bersitatap tapi melalui komunikasi internet. Jalan ini memang mempermudah pembeli sehingga ia tidak mesti bersusah payah pergi ke Jakarta. Namun, kedua belah pihak pun mesti melakukan kontak satu sama lain, dengan begitu akan terjadi transaksi yang disetujui kedua belah pihak. Pasar ini menciptakan dunia pasarnya sehingga ia tampak hidup dan berkesinambungan. Melakukan bisnis di tempat ini memang menguntungkan tapi kita juga mesti cerdas apakah ide ini baik atau malah sebaliknya.

%d bloggers like this: