Melihat kembali tanah abang dalam dua wajah yang dihadapi kini dan masa lalu

Sebelum Natal tahun 2009 kita pastinya pernah dikagetkan oleh peristiwa runtuhnya Pusat Grosir Pasar Tanah Abang. Ketika itu berita mengenai pasar ini menjadi headline berita cetak maupun berita televisi. Ada beberapa orang yang menjadi korban pada musibah atau peritiwa ini. Para pekerja kuli angkut barang adalah contohnya. Yang menjadi momok menakutkan adalah apakah di bulan Desember kini gedung pasar grosir di sini akan runtuh kembali? Entahlah. Ada beberapa kriteria yang sudah seperti rahasia umum bahwa Tanah Abang akan runtuh atau kebakaran ini lantaran ada pemicu dari pemerintah Jakarta sendiri, yakni ingin merekonstruksi bangunan tapi di sisi lain para pedagang tetap bersikukuh mempertahankan lahannya karena apabila mereka direlokasi maka terdapat banyak kerugian yang akan menimpa masyarakat yang ada di sini. Bagi penduduk Jakarta, Tanah Abang merupakan salah satu asset yang mesti dipertahankan keberadaannya atau eksistensinya lantaran ia, selain menyimpan kenangan atau memori bagi penduduknya, adalah tempat di mana mereka bisa melangsungkan kehidupan atau dengan kata lain melalui berdaganglah mereka bisa hidup. Tapi yang menjadi masalah adalah apakah gedung Pusat Grosir Tanah Abang kini masih bagus keadaannya? Bagaimana dengan peremajaan yang dilakukan petugas? Pertanyaan terakhir adalah milik pemerintahkan Pusat Grosir Tanah Abang ini? Apabila sebaliknya apa yang dilakukan ketika menghadapi peristiwa yang masa lalu? Bangunan grosir ini sungguh sangat dikenal tapi di sisi lain ia juga menjadi momok menakutkan ketika mendengar berita-berita yang sebelumnya mengenai gedung ini. Ia seolah menjadi gunung merapi yang bisa meledak seketika dan tanpa beberapa symptom yang bisa terdeteksi oleh kita. Di sisi lain, sebaiknya penghuni, yang kami maksud adalah penjual, juga mesti merawat gedung dengan menyimpan barang-barang mereka dengan beban yang sesuai dengan kondisi gedung sehingga bangunan akan mampu menahan kapasitas yang dibebankan.

Terlepas dari itu semua, pasar Tanah Abang tetap menjadi idola pembeli karena di sana menyajikan barang-barang yang sangat terjangkau oleh masyarakat. Sehingga uang yang dikeluarkan pun tampak tidak menjadi masalah yang begitu penting. Tentu saja, Tanah Abang adalah tempatnya atau pusatnya grosir menjadi konsumsi khalayak umum ketika seseorang yang berkocek pas-pasan mampu membeli pakaian untuk anak-anak kita maupun diri kita sendiri. Kami dan anda atau mereka tidak bisa menutup mata bahwa kebutuhan kita tidak bisa terlepas dari pasar Tanah Abang ini karena ia selalu menyajikan hal-hal yang sangat dibutuhkan serta menyajikan kekhasan dari para pedagang di dalamnya. Melalui penjualan yang murah ini pun dapat menguntungkan para pedagang karena sebagai timbal baliknya mereka akan diburu selalu oleh para pembeli yang sudah menjadi langganan. Dengan begitu akan selalu terjadi transaksi ekonomi yang tampak tak pernah larut oleh zaman. Sistem penjualan secara murah ini memang menguntungkan kedua belah pihak sehingga perputaran uang selalu terjadi di pasar Tanah Abang ini. Kehidupan di pasar ini di setiap harinya selalu ramai dikunjungi para konsumen yang membutuhkan sehingga ia sanggup menjawab ketidakpuasan konsumen. Ini semacam eksistensi masa yang tak pernah luntur lalu sebuah pasar mencuatkan kesanggupan dalam segi kapital yang setiap harinya dikerumuni manusia. Mengingat adanya transaksi ekonomi masa, ia menjadi simbol kelas yang secara tidak sadar selalu menjadi konsumsi meski barang itu hanya untuk dibeli tapi tidak untuk dikenakan, seperti pakaian. Melalui pasar ini kita bisa secara tidak langsung kita bisa melihat masyarakat Jakarta yang plural (mulai dari pembeli, penjual, sampai kuli angkut barang) keberadaannya.

%d bloggers like this: