Terjadinya Tanah Abang yang belum diungkapkan sampai kini hingga masih menimbulkan tanda tanya

Ketika seorang kapten Cina bernama Phoa Bhingam yang bekerja—saat pemerintahan kolonial VOC Belanda itu, untuk membuat sebuah kanal pada tahun 1648 nama Tanah Abang mulai dikenal. Pembuatan kanal ini melaju ke bagian selatan sampai dekat hutan Batavia. Lalu, tanah Batavia (Jakarta) ini dipecah (split) menjadi dua daerah; pertama, ke arah barat hingga kali Krukut dan kedua, kali Ciliwung hingga daerah timur. Molenvliet adalah sebutan nama bagi kanal ini, kanal atau terusan ini digunakan untuk sarana transportasi seperti mengangkut hasil bumi melalui perahu ke arah selatan hingga dekat hutan Batavia. Melalui kanal ini, hubungan transportasi hingga komunikasi pemerintah VOC kala itu mendapatkan perkembangan hingga ke kota bagian selatan. Sampai sekarang, jalan-jalan yang mengantarai kanal itu seolah-olah menjadi urat nadi kota Batavia karena ia menghubungkan antara 1) Merdeka, 2) Lapangan Benteng, 3) Tanah Abang, hinggga daerah 4) Jakarta Kota.
Di daerah selatan Batavia ini, dijadikan sebuah daerah perkebunan yang diperuntukan orang Belanda sebagai tuan tanah dan Cina. Di daerah Tanah Abang, Phoa Bhingam memiliki perkebunan tebu yang sudah dilengkapi dengan tempat penggilingan. Di lain bagian, orang-orang kolonial Belanda memiliki daerah perkebunan seperti perkebunan kacang dan perkebunan lainnya. Melalui sistem pertanian perkebunan kacang inilah orang Belanda membuat bahan komoditas, yakni minyak yang terbuat dari kacang. Di lain pihak, mereka berusaha untuk berkebun jahe, melati, sirih, dsb. Dengan begitu perkebunan ini masih membekas melalui nama-nama atau julukan bagi daerahnya. Dengan hasil hasil lahan yang kaya, akhirnya seorang Justinus Vinck membuat gagasan untuk mendirikan sebuah pasar di daerah Tanah Abang hingg Senen. Gagasan ini ia ajukan ke pemerintah setempat. Alhasil, usahanya ini mendapat restu dari Pemerintah VOC Belanda melalui Gubernur Jenderal yang bernama Abraham Petrus. Setelah direstui, Justinus Vinck, tanggal 30 Agustus 1735, ia (orang Belanda itu) membangun dua buah pasar— Pasar Senen atau Weltevreden dan Pasar Tanah Abang. Di bagian lain, kali Krukut menjadi penting karena ia berada tidak jauh dari Pasar kedua. Dengan begitu, perahu-perahu yang memuat barang-barang untuk di jual ke pasar ini menjadi ramai.

Sepertinya ada baiknya untuk sedikit berbicara mengenai asal-usul nama Tanah Abang. Terdapat ada beberapa pendapat tentang nama ini, yaitu 1) tahun 1628, serombongan pasukan Mataram menggempur Batavia-Jakarta, akan tetapi para pasukan Mataran itu menyerang bagian kota melalui Tanah Abang, yakni daerah selatan Jakarta/Batavia. Serbuan mereka adalah dengan alasan untuk menggunakan sebagai pangkalan maritim, karenakan tempat/daerah ini adalah tanah perbukitan ini daerah yang baik, so mereka tidak menyerang kota Batavia melalui kali Krukut karena zona rawa adalah tempat itu berada kala itu. Setelah daerah atau zona itu terdapat tanah merah lantas maka mereka menyebut tempat itu sebagai Tanah Abang, yang mereka ambil dari bahasa Jawa, abang berarti merah warna darah. 2) Di episode lain, terdapat dugaan bahwa yang menganggap Tanah Abang ini berasal dari “abang dan adik”, yakni kakak dan adik. Dikarenakan si adik tidak memiliki rumah atau house, kemudian si adik meminta dan memohon kepada abangnya agar membangun rumah. Dengan begitu, daerah ini dijuluki sebagai yang sudah disebut di atas. Akan tetapi, keberadaan nama ini masih diragukan dan belum dikaji secara mendalam oleh antropolog.

 

Di akhir abad 18, daerah ini mengalami perubahan. Hal itu ditandai dengan kemunculan beberapa rumah mewah yang didirikan oleh orang-orang ‘colonial’ Belanda hingga Cina. Di sekitar rumah-rumah/kediaman mereka terdapat rumah-rumah pribumi yang dibangunan secara sederhana. Kebanyakan dari penduduk ini bekerja sebagai penjaga (security), pembantu, tukang kebun di rumah-rumah orang Belanda dan Cina.

%d bloggers like this: