Membaca lagi cerita berdarah dan pilu di daerah antara tanah abang yang ada di tahun 1945

Di Oktober 1945, escort kapal-kapal perang tentara Sekutu merapat di pantai Jakarta, ketika terjadi pergolakan dan perang melawan Jepang. Lalu, kapal perang Belanda bersama-sama kapal sekutu lainnya sama ikut berperang bersama sekutu. Masih di tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 4-5 Oktober, Stasiun Tanjung Priok luluh-lantakan oleh Tentara Belanda. Pasukan Belanda, melalui bantuan tentara sekutu, mengatur siasat dan persediaan alat-alat perang. Kala itu atmosfir di Jakarta tampak genting dan mencekam, hal ini disebabkan lantaran Belanda melebarkan sayapnya lalu mereka melakukan pergerakan, yakni bertempur di beberapa tempat, seperti Kramatjati, Senen, Sawah Besar, Petojo, Pintu Air, Harmoni, Petamburan, Tanah Abang dan Gambir.
Kala itu masyarakat Tanah Abang merasa tidak aman karena pasukan India pun melakukan pemeriksaan. Antara penduduk daerah Tanah Abang dan Jati Petamburan dengan pasukan Belanda terjadi gencatan senjata di Kampung Karet, lokasi ini berada di dekat kuburan. Dengan maksud memutuskan hubungan antara dari satu dengan daerah lain, semisal Tanah Abang dengan Kramatjati, kemudian Belanda terus mencoba untuk menduduki kantor-kantor atau pos-pos polisi. Meski persenjataan Belanda bias dibilang lengkap, akan tetapi para pemuda yang ditemani para penduduk saling bahu-membahu melakukan pertempuran melawan pasukan kolonial. Adalah keberanian yang menjadi modal superioritas para pejuang kala itu, alhasil para pemuda dan penduduk yang berada di daerah Karet mampu mengusir Belanda. Dengan begitu, pasukan ‘colonial’ mundur ke Jembatan Tinggi Jati Petamburan. Di tempat inilah pasukan colonial dipecah menjadi dua peleton, pasukan pertama menuju daerah Jati Baru dan pasukan kedua pergi ke daerah Tanah Abang. Sialnya, mereka (para pasukan itu) diserang, di Gang Thomas, oleh penduduk yang dibantu para pemuda. Pertempuran ini banyak memakan korban dari pasukan kolonial di sisi lain para penduduk merampas persenjataan mereka.
Di waktu yang lain, tanggal 20 Nopember 1945 pertempuran pun bergejolak kembali, yakni di Jati Baru Karet, dan Jati Petamburan. Kala itu sekitar jam 4.30 pagi, subuh menjelang yakni sebelum adzan sholat subuh, pasukan Belanda melakukan kegiatan yakni penggeledahan dan pemeriksaan, yang menurut mereka kegiatan rutin, pada setiap anggota masyarakat yang melalui Jembatan Tinggi. Ketika itu tentara colonial tidak tahu yang mereka geledah adalah para pemuda (pejuang) dan penduduk yang bersenjata dan berusaha untuk tidak melawan. Para pemuda dan penduduk melemparkan tembakan dan granat ke arah Jembatan Tinggi setelah mereka berjalan agak jauh dari tempat itu, tentu, suasana sewaktu itu chaos. Mereka (para pemuda) yang dari Jati Petamburan, Kampung Bali, dan Tanah Abang saling membantu untuk menyerang rombongan konvoi kendaraan patrol Belanda. Betul, antara pasukan Belanda dan penduduk banyak yang menghembuskan nafas terakhirnya di sini. Akan tetapi, kejadian bencana ini merupakan pecut dan suplemen untuk pembangkit semangat untuk bertempur. Melalui kejadian ini, di pihak Belanda tetap tidak tinggal diam untuk menghadapi para penduduk, dengan begitu, mereka menyewa mata-mata dengan maksud untuk mengawasi tingkah laku yang mencurigakan dari penduduk dan para pemuda.
Masih di cerita yang sama, cerita kecil ini mengambil lokasi di Tanah Abang, terdapat seorang pria yang berasal dari Kampung Bali, yakni Bapak Misnan. Laki-laki gagah berani ini menyamar untuk menjadi petukang, yakni cuci mobil, di markas Sekutu ‘Royal Air Forces’ (RAF). Markas ini berada di Tanah Abang Bukit, tepatnya di bekas rumah tuan tanah. Ia mendapatkan kepercayaan dari para penduduk dan pemuda untuk mencuri dokumen orang-orang yang akan diculik. Alhasil, ia berhasil melakukan tugas itu sehingga orang-orang yang berada di daftar bisa di selamatkan.

%d bloggers like this: