Tips Berbelanja di Pasar Tanah Abang

Semenjak pertama kali, sudah enam belas tahun, menginjakkan kaki di Jakarta hingga hari ini, tak pernah sekalipun diri saya berkunjung ke kawasan Pasar Tanah Abang. Akan tetapi, keterkenalanan pasar ini tak pernah pudar. Malahan ia diberi julukan sebagai salah satu pasar garmen dan grosir terbesar dan bahkan se-Asia Tenggara. Ini menakjubkan. Tapi anehnya, hal ini tak membuat diri saya lekas tertarik untuk datang apalagi hendak belanja. Menurut beberapa informasi yang saya terima dari kawan-kawan yang pernah berbelanja ke sana bahwa pasar ini Tanah Abang ini sesak, panas, padat, ramai dan kurang rapi alias jorok. Melalui informasi itulah saya tidak ada keinginan untuk berjalan-jalan dan berbelanja ke pasar yang dibilang banyak premannya. Ini cukup beralasan. Tapi di pertengahan bulan Mei lalu, ketika itu liburan akhir pekan, istri saya meminta untuk pergi ke pasar ini bersama. Maksudnya adalah hanya sekedar melihat-lihat bagaimana kondisi Pasar Tanah Abang dan di lain sisi, kebetulan membeli beberapa pasang pakaian untuk orang tua si istri alias mertua.

 

Hari itu adalah hari Sabtu pagi yang cerah karena matahari bersinar ceria. Aku dan istri saya berangkat menuju Stasiun Tanah Abang dari Stasiun Cilebut, tentu saja kami menggunakan kereta atau KRL Commuter. Kereta api jurusan Tanah Abang tetap ramai meski hari itu adalah weekend atau akhir pekan apalagi hari normal lainnya, hari kerja. Kami menghabiskan waktu dari Cilebut sampai pasar ini sekitar satu jam melalui KRL. Tapi kita mesti hati-hati dengan pencopet di kereta ini. Setelah menghabiskan waktu satu jam perjalanan, akhirnya kami berdua turun dari kereta bersama para penumpang lainnya. Kondisi ketika hendak turun kereta pun begitu padat hingga kami berdua mesti cepat-cepat enyah dari tempat ini. Saya kira jarak antara stasiun dan Pasar Tanah Abang begitu jauh tapi malah sebaliknya. Ketika keluar dari stasiun, kita bisa melihat bagunan Pasar yang besar. Di sisi lain, cuaca bulan Mei begitu panas. Akan tetapi para pengunjug pasar Tanah Abang tidak pernah surut dan selalu ramai. Para pedagang emperan atau kios liar meramaikan jalan yang selalu dihampiri para pembeli. Dari sini saya melihat kesibukan mereka yang seolah tak ada matinya.

 

Dengan tidak terburu-buru, kami menyisiri jalan menuju Pasar Tanah Abang. Sebenarnya kami tidak tahu arah menuju ke pasar tapi dengan tidak sadar kami hanya mengikuti orang-orang yang berada di sekitar kami untuk berjalan menuju arah tertentu. Alhasil, kami melangkah menuju Pasar Tanah Abang, tepatnya melalui blok F. Dan benar juga sebagian besar dari mereka tengah melangkah menuju Pasar Tanah Abang tepatnya di Blok F. Ruko-ruko yang berjajar mengisi Blok F. Di dalam ruko-ruko ini banyak terdapat aneka produk garmen, yakni pakaian muslim seolah menjadi barang favorit sehingga diburu para pembeli. Ketika berada di pasar ini, sebaiknya kita membutuhkan energi dan kesabaran ekstra. Bukan hanya udara yang padat dan panas tapi suasana di sini sangat padat. Hal ini terjadi karena ketika para pembeli atau pelanggan tampak begitu riuh dari segala arah di tambah lagi dengan kendaraan seperti mobil-mobil, motor-motor sampai gerobak pengangkut barang terlihat memadati gang-gang sempit di antara dua barisan ruko yang berada di antaranya.

%d bloggers like this: